Minggu, 25 Januari 2015

Rangkuman IPS : Perpindahan Penduduk

Rangkuman Materi IPS Kurikulum 2013 Kelas VIII Semester 1 Bab Perpindahan Penduduk

MIGRASI
Ø  Migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain baik untuk menetap maupun sementara, perseorangan maupun kelompok
1.      Penyebab Migrasi
a.       Bencana alam
Ø  Karena Indonesia terletak di daerah rawan bencana, terutama gempa bumi dan gunung meletus, maka sebagian warga terpaksa harus berpindah ke daerah lain yang lebih aman.
b.      Lahan Semakin Sempit
Ø  Lahan pertanian yang semakin sempit karena terdsak untuk lahan tempat tinggal, maka penduduk akan melakukan perpindahan ke daerah lain untuk mencari pekerjaan baru atau mencari daerah yang lahan pertaniannya masih luas.
c.       Situasi Pertentangan
Ø  Pertentangan terjadi karena adanya sikap tidak saling menghargai, mau benar sendiri, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.
Ø  Hal itu menyebabkan situasi tidak aman dan akan mendorong orang melakukan migrasi ke tempat yang lebih aman.
d.      Kondisi Alam
Ø  Kondisi alam yang tandus kadang mendorong penduduk untuk mencar daerah lain yang lebih menguntungkan.
2.      Macam-Macam Migrasi
Ø  Ditinjau dari daerah yang dituju, migrasi dibedakan menjadi dua yakni migrasi internasional dan migrasi nasional.
Ø  MIGRASI INTERNASIONAL
  adalah perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain.
Dibedakan menjadi 3, yaitu :
·         Imigrasi : Perpindahan penduduk yang masuk ke dalam suatu negara dengan tujuan untuk menetap di negara yang didatanginya.
·         Emigrasi : Perpindahan penduduk yang meninggalkan suatu negara ke negara lain dengan tujuan untuk menetap.
·         Remigrasi (Repatriasi) : Pepindahan penduduk dari suatu negara ke negara tempat asalnya.
Ø  MIGRASI NASIONAL
   adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dalam satu wilayah negara atau disebut juga migrasi internal.
Terdiri atas dua bentuk yaitu transmigrasi dan urbanisasi.


TRANSMIGRASI

Ø  Transmigrasi adalah perpindahan penduduk daerah atau pulau yang berpenduduk padat ke daerah atau pulau yang berpenduduk jarang dalam rangka untuk kepentingan pembangunan nasional.
Ø  Transmigrasi dapat dilakukan atas kehendak sendiri maupun mengikuti program pemerintah
Ø  Tujuan Transmigrasi
1.      Pemerataan penduduk → penduduk tidak memusat di suatu lokasi
2.      Meningkatkan taraf hidup masyarakat → dapat bekerja dengan baik
3.      Menyelesaikan masalah pengangguran → banyak lapangan kerja
4.      Menanggulangi bencana alam → penduduk dipindahkan ke daerah aman
Ø  Bentuk-bentuk transmigrasi di Indonesia:
a)    Transmigrasi Keluarga : keluarga/ kerabat para transmigran lama sudah menetap di daerah migran.
b)    Transmigrasi Khusus : dari daerah padat ke daerah jarang dengan tujuan yang khusus.
c)    Transmigrasi Umum : dibiayai dan difasilitasi oleh pemerintah sejak dari daerah asal sampai ke daerah tujuan.
d)    Transmigrasi Lokal : dari satu daerah ke daerah lain masih dalam satu provinsi
e)    Transmigrasi Spontan : biaya dan kehendak sendiri
f)    Bedol Desa: perpindahan satu desa dengan segenap aparatnya dan organ-organ di dalamnya
g)    Transmigrasi Swakarsa : seluruh biaya ditanggung oleh transmigran atau pihak lain diluar pemerintah.
h)    Transmigrasi Sektoral : perpindahan para petani teladan atas biaya Departemen Dalam Negeri, Departemen Transmigrasi, dan Pemda.
i)    Transmigrasi Padat Karya : suatu daerah yang padatpenduduknya untuk dipekerjakan pada proyek-proyek pembangunan daerah tujuan transmigrasi.
j)    Evakuasi : dari daerah ke daerah lain baik perorangan maupun kelompok karena adanya bencana alam atau peperangan.
k)    Forentisme : sifatnya sementara, karena suatu tugas pekerjaan.     
l)    Tourisme : sementara waktu dengan tujuan untuk rekreasi.
m)  Migrasi Musiman : dari suatu derah ke daerah lain yang sifatnya sementara, terutama pada saat suatu daerah membutuhkan tenaga kerja dari daerah lain.



URBANISASI

Ø  Pengertian Urbanisasi
·         Perpindahan penduduk dari desa ke kota.
·         Suatu proses perpindahan yang dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi, demografi, sosiologi, dan geografi.
·         Perubahan suasana perdesaan menjadi suasana kehidupan kota.
Ø  Penyebab Urbanisasi
Ø  Penyebab utama urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Penyebab lainnya adalah pertumbuhan kota.
Ø  Dua hal penting yang menyebabkan terjadinya urbanisasi :
1.      Daya Dorong Desa
Ø  Pertumbuhan penduduk terus berkembang, sementara lahan dan fasilitas yang tersedia tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk.
Ø  Hal tersebut mendorong masyarakat desa pergi ke kota untuk memperoleh suasana kehidupan yang lebih dinamis.
Ø  Beberapa penyebab penduduk desa melakukan migrasi ke kota :
a.  Terbatasnya lapangan pekerjaan di pedesaan.
b.  Semakin sempitnya lahan pertanian.
c.  Keberhasilan pertanian yang tidak pasti seperti paceklik, kekeringan, dan serangan hama.
d.  Minimnya fasilitas sosial di pedesaan.
e.  Kehidupan desa yang tidak bervariasi atau monoton.
2.  Daya Tarik Kota
Ø  Keunggulan utama di kota adalah lengkapnya sarana dan prasarana dari pemerintah maupun swasta yang tersedia.
Ø  PEMERINTAH
Ø  Pemerintah membangun sarana pendidikan, pelayanan masyarakat, gedung olahraga, gedung kesenian, dan pusat pemerintahan di kota.
Ø  Tujuan : Agar mudah diakses dari berbagai pelosok, termasuk dari luar.
Ø  SWASTA
Ø  Tujuan : 1) Memudahkan urusan administrasi, 2) Perusahaan mudah melakukan akses dengan berbagai penjuru tempat.
Ø  Sebagai daya tarik kota diantaranya :
a.   Lapangan pekerjaan di kota lebih banyak dibanding di desa.
b.  Upah pekerja di kota lebih tinggi dibanding di desa.
c.  Fasilitas sosial, pendidikan, olahraga, dan lain-lain lebih lengkap dibanding di desa.
Ø  Masalah yang ditimbulkan urbanisasi :
1.      Semakin banyak jumlah pengangguran di perkotaan
2.      Semakin tingginya tindak kejahatan
3.      Tumbuhnya pemukiman kumuh
Ø  Upaya menghentikan laju urbanisasi :
1.      Membuka lapangan pekerjaan di pedesaan
2.      Membangun industri pabrik dan pusat perdangan
3.      Pembangunan fasilitas umum seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi
Ø  Dampak Urbanisasi
Ø  Dampak bagi desa
Ø  DAMPAK POSITIF
1.      Menurunnya angka pengangguran
2.      Meningkatnya daya beli desa karena uang dikirim dari kota
3.      Pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya positif dari kota.
Ø  DAMPAK NEGATIF
1.      berkurangnya tenaga terdidik
2.      menurunnya kualitas dan kuantitas pertanian
3.      pengaruh budaya negatif dari kota
Ø  Dampak bagi kota
Ø  DAMPAK POSITIF
1.      tersedia tenaga kerja murah terutama tenaga kerja kasar
2.      terjadinya kompetisi yang tinggi dalam rekrutmen tenaga kerja
3.      dihasilkan tenaga kerja yang unggul.
Ø  DAMPAK NEGATIF
1.      meningkatnya jumlah penduduk kota
2.      ketatnya persaingan kerja
3.      berkurangnya lahan kota

4.      meningkatnya masalah sosial

Sabtu, 24 Januari 2015

Puisi : Serigala yang Tak Pernah Tidur

Puisi merupakan salah satu karya sastra. Tak jarang pula puisi masuk dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Seperti yang saya temui di sekolah, materi Bahasa Indonesia Kelas VIII Semester 1 Kurikulum 2013 pada bab Teks Biografi, siswa dituntut untuk dapat membuat puisi tentang seorang tokoh. Ya, pilihan saya jatuh di Baden Powell, Bapak Pandu Dunia. Setelah membaca referensi mengenai biografi Baden Powell, saya mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi ini. Selamat membaca...



Serigala yang Tak Pernah Tidur
Karya Khansa Iffat

Baden Powell
Itulah namamu
Stephenson lah   
Nama kecilmu
Di balik itu
Engkau punya nama besar
Menggema ke seluruh jagad raya
Bapak Bandu Dunia

Mandiri yang diajarkan ibumu
Waspada, cekat, dan berani
Mewarnai seluruh gerakmu

Temanmu berjuta-juta
Tersebar di seluruh dunia
Dari Rimba Afrika
Britania Raya
Sampai Australia
Tak lupa singgah
Di Batavia

Seluruh alam kau cintai
Berpetualang menjadi hobi
Kau selamatkan Metabele dan Zulu
Serigala tak pernah tidur julukanmu

Kau inspirasi pandu dunia
Gerak pramuka di Indonesia
Bersama Lady Bowel kau habiskan usia
Namun pramuka tetap menyala di hati saya

Cerpen : Kambing Nenek Suka Bakmi

Sudah beberapa cerpen yang pernah aku tulis. Tak sedikit pula yang sudah pernah aku ikutkan lomba. Kali ini adalah cerpen karyaku yang pernah aku kirimkan dalam Lomba Menulis Cerita (LMC) siswa SMP/MTs tingkat nasional tahun 2013. Cerpen ini bertema kasih sayang dan judulnya adalah "Kambing Nenek Suka Bakmi". Taukah kalian apa isi dari cerpen ini? Find out by read this story!




Kambing Nenek Suka Bakmi
Karya Khansa Iffat

Libur telah tiba, saatnya berkunjung ke rumah nenek. Sudah menjadi tradisi di keluarga besar kami, setiap liburan pasti main ke rumah nenek. Rumah nenekku di Wonogiri, tepatnya di Desa Wonoharjo. Liburan kali ini keluarga dan saudara-saudaraku akan pergi ke rumah nenek. Kami berencana berangkat besok pagi naik mobil ayahku. Malam ini kami akan packing baju-baju yang akan dibawa besok. Hmmm… Aku sudah tidak sabar.
Esok telah tiba, kurapikan tempat tidurku lalu bergegas mandi. “ Mbak, aku dulu ya yang mandi? ” tanyaku kepada kakakku. “Iya buruan, Sa!” sahut kakakku. Setelah semuanya siap, kami segera berangkat. Kami akan menjemput keluarga besar kami di rumah Budhe Mur. Rumahnya tak jauh dari rumahku, sekitar 500 meter saja. Setibanya di rumah Budhe Mur, ternyata semua sudah menunggu. Ada Budhe Mur, Pakdhe Gio, Om Seto, Mas Dio, Jasmine, Fallen, dan Sendy. Mas Dio, Fallen,adalah anak Budhe Mur. Sedangkan Jasmine  dan Sendy adalah anak Om Seto.mereka menunggu di  rumah Budhe mur untuk berangkat bersama-sama.Tante Ayuk tidak ikut, karena  beliau tidak libur.
“Ayo, anak-anak naik mobil.” ucap ibuku. “Aku pilih naik motor sama Om Seto aja, aku nggak suka naik mobil!” tutur Fallen. “Oh ya sudah, hati-hati di jalan” kata Pakdhe Gio. Memang sejak dulu Fallen tidak suka naik mobil, Jika berpergian dia selalu naik motor.
Perjalanan Solo – Wonogiri kami mulai. Pakdhe Gio yang menyetir mobil. Ayahku duduk di depan sambil memangku Sendy. Di antara kami, Sendylah yang pailing kecil .Dia masih duduk di TK. Ibu, Budhe Mur, dan Mbak Laily duduk di tengah. Sementara Aku, Mas Dio dan Jamine duduk di belakang. Kami menikmati perjalanan kami. Selama di perjalanan, Ibu dan Budhe asyik mengobrol, Mbak Laily serius membaca novel, Mas Dio sedang asyik mendengarkan lagu menggunakan MP3 Player barunya. Katanya  itu hadiah dari mamanya karena dia mendapatkan peringkat 1 di sekolah, sedangkan Aku dan Jasmine sibuk bermain game mengunakan tab milikku, itu pun sama seperti Mas Dio, hadiah dari ayah karena aku mendapatkan peringkat 1 di sekolah.
Tak terasa sudah setengah perjalanan, kami sampai di Kabupaten Sukoharjo. Biasanya kami mampir ke toko untuk membelikan beberapa kebutuhan pokok untuk nenek, dan kali ini pun juga. Kami sampai di toko langganan kami, Ibu dan Budhe turun dari mobil. Tiba-tiba Sendy berteriak “ Aku ikut! Aku mau jajan”. Segera Sendy turun dari mobil dan menghampiri Ibuku dan Budhe Mur. “Budhe, aku mau jajan ini, ini, dan ini.” ucapnya sambil menunjukkan makanan yang ia minta. Setelah semua barang sudah dibeli, kami melanjutkan perjalanan . Ketika di mobil, ternyata Sendy hanya memberikan masing-masing satu butir permen kepada Aku, Jasmine, Mas Dio, dan Mbak Laily. “Mbak Laily, Mas Dio, Mbak Sasa, dan Mbak Jasmine, ini permen buat kalian. Hehehe..” sambil tertawa Sendy memberikan permennya. “Lho, kok cuma satu to, Sen? Lagi dong! Adik curang, pasti kamu punya banyak.” Tutur Jasmine sambil mengerutkan keningnya. “Mending dapet satu, daripada Mas Fallen nggak dapet, kan? Yaa …nanti aku bagi di rumah Mbah lagi” jawab Sendy. “Janji lho ya, nanti dibagi lagi” sahut Mas Dio.
Setelah perjalanan yang cukup lama, tibalah kami sudah di rumah nenek. Sesampainya di rumah nenek, ternyata Fallen dan Om Seto sudah sampai lebih dulu di rumah nenek. Aku, Sendy, Jasmine, dan Mas Dio mencari-cari Fallen. Ternyata dia sedang di belakang rumah, dia sedang mengamati kambingnya nenek. “Oh, kamu di sini, Len. Kami cari-cari dari tadi” tuturku. “Iya Mbak Sasa. Coba lihat kambing ini, gemuk sekali ya?” ucap Fallen. “Iya ya, kok bisa kambingnya gemuk, biasanya kambing tidak segemuk ini” tanya Jasmine dengan heran. Lalu Mas Dio menjawab “mungkin karena ini kambing yang hidup di desa sehingga dia banyak makan rumput. Di desa kan masih banyak rumput segar yang cocok untuk pakan kambing”. “Iya bener tu Mas Dio” sahut Sendy. “Emangnya ada kambing yang hidup di kota?” tanyaku.Kambing guling, kaleee…..whahaha…”yang lain pun ikut tertawa. “Oh ya, mana ni permen buat kita. Jangan ingkar janji ya, Sen!” tegur Mas Dio. “laaaah, kok masih pada inget sih. Oke ,oke. Aku bagi. Ayo sekarang kita masuk dulu” jawab Sendy.
Setelah Sendy membagi permennya, Mbak Laily mengajak Aku, Sendy, Fallen, Jasmine, dan Mas Dio bermain UNO. Permainan kartu ini sudah cukup populer di kalangan anak-anak. Tapi ternyata, di antara kami hanya Aku, Mbak Laily, dan Mas Dio saja yang tau. Jasmine, Fallen, dan Sendy belum pernah bermain UNO. Mbak Laily menjelaskan cara bermainnya. Setelah cukup paham, permainan dimulai. Giliran pertama Mas Dio, lalu Aku, Mbak Laily, Fallen, Sendy, dan Jasmine. Tanpa disangka-sangka, ternyata Fallen sering menang. Sudah 5 kali dia menang, mungkin karena dia beruntung. Seperti iklan di TV, orang pintar kalah sama orang bejo. Hehehe..
Setelah kami lelah bermain UNO, kami memilih untuk tidur saja. Bisa dikatakan ini tidur siang, karena waktu telah menunjukkan pukul 11.30. Sekitar jam 2 siang kami bangun. Kami terbangun karena kami lapar, kami baru sadar kalau kami belum makan siang. Memang makan siang kali ini sedikit telat, karena kami mengunjungi nenek tanpa sepengetahuan nenek, jadi nenek pun belum menyiapkan makanan untuk kami. Nenek, Ibu, dan Budhe Mur telah memasakkan sayur lodeh dan kakap goreng hasil tangkapan di kolam milik nenek. Tidak ketinggalan mie atau yang lebih sering kami sebut bakmi.
Karena Fallen tergiur oleh kelezatan bakmi bikinan nenek, dia langsung memakannya, tetapi tidak seperti dugaanya. “Lho, kok bakminya nggak enak, Mbah?  Asin banget!”seru Falen. Tiba-tiba nenek marah, kira-kira kenapa ya? “Fallen, bakminya kok  kamu makan? Itu bukan buat kamu. Sudah taruh itu, kamu makan sayur dan kakap saja.” teriak  nenek. Fallen terkejut.Lantas ini untuk siapa? Nggak enak Mbah, nanti yang makan juga nggak akan suka lho.” Jawab Fallen. “Nanti Mbah buatkan lagi yang enak, itu bakmi jangan dimakan dulu. Itu untuk kambing! Kasihan kambingnya sebentar lagi melahirkan!”. “Whahahaha.. kambing? Haduh, Mbah ini aneh-aneh saja.” Sahutku sambil tertawa terbahak-bahak.. “Pantesan kambingnya gemuk banget.  Kambing ini makanannya seperti manusia to?” ucap Mbak Laily yang sedang dari sumur mengambil air wudhu untuk sholat. “Iya, kita itu harus sayang kepada semua makhluk hidup. Tidak hanya manusia saja yang diperlakukan baik. Hewan dan tumbuhan juga sama.” kata nenek. “Tapi ya  nggak segitunya,to Mbah..., dikasih rumput juga namanya sayang kok” kata Om Seto.
Tiba-tiba Jasmin  berkata “kata Bu Guru kambing itu herbivora pemakan tumbuhan. Ini kambing ajaib ya, dia omnivora. Seperti ayam saja.” tambahnya. “Wah putu wedok pinter yo! Iya memang kambing itu pemakan tumbuhan, tapi berbeda dengan kambing Mbah. Ini kambing istimewa yang sudah Mbah besarkan dari bayi. Sudah, sudah sekarang kalian segera makan” kata nenek. Karena dimarahi nenek, Fallen malah cemberut. Sepertinya dia marah, atau bahkan malu, ya? Hehehe.. Mungkin dia berpikir kalau nenek lebih sayang kepada kambingnya dari pada Fallen. Entah mengapa dia juga tidak mau makan siang bersama-sama.Ngambek.Dia malah pergi ke kandang kambing.
Sebentar kemudian terdengar keributan di sana. “Embek, embek, embek....!” suara kambing terdengar ribut. Sementara suara Fallen terdengar kencang menyaingi embikan kambing. “ Rasain lu! Mau lari ke mana! Dasar kambing jelek! Gendut! Makannya bakmi, lagi! Nih....rasain!” teriak Fallen. Nenek segera menghampiri Fallen di kandang kambing sambil teriak-teriak. “ Fallen...kau apakan kambingnya, he?” teriak nenek tak kalah hebohnya. Kami segera berlari menghampiri mereka. Ternyata Fallen menyodok- nyodok kambing nenek dengan sebilah bambu.Ke mana pun kambing itu berlari, dia kejar dengan bilah bambu yang dibawanya. Tapi karena kambingnya di dalam kandang, dia hanya dapat ‘mojok’ sambil mengembik-embik. “Fallen...jangan... kasihan kambingnya... kan sakit...nanti mati,lho!” teriak nenek lagi. “ Biar aja! Mbah nggak sayang lagi sama Fallen.Lebih sayang kambing! Buktinya kambing aja dikasih mie. Aku,tidak!” bantahnya. “Ya sudah...nanti Mbah masakkan yang enak.Pakai telur, tapi jangan kau sakiti kambingnya!” Tanpa menjawab Fallen berlari sambil membuang galah bambunya.
Kami selesai makan.Setelah  kenyang, kami beristirahat sejenak. Kami bingung ingin melakukan apa. Kami belum bisa nonton TV untuk saat ini karena Ayah dan Pakdhe Gio sedang memperbaiki antena di atas rumah. Kami memutuskan untuk berfoto-foto bersama. Yaaa …untuk kenang-kenangan saja. Om Seto membawa kamera digitalnya. Kami berpose di kebun milik nenek. Pemandangannya cocok untuk background foto kami.Melihat kami berfoto-foto, Fallen ikut gabung juga. Setelah puas berfoto-foto, Fallen mengajak Aku, Sendy, Jasmine, Mas Dio, Mbak Laily, dan Om Seto untuk bermain bola di lapangan. “Om Seto ayo main bola di lapangan!” ajak Fallen.” Bosan aku di rumah terus, liat kambing jelek itu!”tambahnya.Ayo, Om juga mau. Tapi kita tidak punya bola. Terus gimana?”kata Mas Dio. “Kita ajak Mbak Erna, Mas Adi, dan Mas Gatot saja. Orangnya pas 10, nanti 1 tim 5 orang. Sekalian pinjam bola” usulku. “Iya aku setuju, ayo buruan berangkat, nanti malah aku dimarahi lagi kalo main di dapur atau di dekat kandang kambing jelek itu!” ucap Fallen dengan memelototkan matanya. “Sebentar aku ganti baju dulu” ujar Mbak Laily.
Kami semua sudah siap berangkat. Kami berpamitan kepada Budhe Mur untuk pergi bermain bola di lapangan. Kami menghampiri rumah Mbak Erna. Ayah Mbak Erna itu sepupu ibu yang tinggal di desa nenek.Setiap ke rumah nenek pasti kami datang juga ke rumah Mbak Erna. Maka dari itu kami sudah akrab.Kami sering main bola bersama atau bermain-main di kali.
“Mbak Erna, Mas Gatot, Mas Adi! Ayo main bola di lapangan.” Sendy dan Fallen berteriak bareng. Dari dalam rumah keluar Pakdhe Wasimin “Wah, pada pulang ke rumah Mbah to? Ada apa ini?”. “Kami mau mengajak main bola di lapangan, Pak Dhe…Mbak Erna, Masa Adi, sama Mas Gatot ada?” tanya Mas Dio. “Sebentar ya, Pakdhe panggilkan dulu. Ayo masuk sini” ujar Pakdhe Wasimin. Tak lama kemudian Mbak Erna, Mas Adi, dan Mas Gatot keluar. “Mau ngajak ke lapangan to? Mau ngapain? Makan rumput?  hehehe” tanya Mbak Erna. “Ya enggak lah, kita kan bukan kambing” jawabku.  “juga bukan kambing gemuk jeleknya Mbah yang makan bakmi itu.” jawab Fallen. “Makan Bakmi, le? ” ujar Pakdhe Wasimin. “Iya Pakdhe, bakminya akan  kumakan malah aku dimarahi Mbah.Terus tak sodok-sodok pakai galah,tambah dimarahi. Jadi aku main saja. Nggak mau makan aku!” lanjutnya. “Wah, Fallen lagi marah to ini? Nanti tambah pungkring,lho! Hahaha”ledek Mbak Erna. “Ya sudah ayo berangkat, ini bolanya sudah kubawa” ucap Mas Adi.
Sesampai di lapangan kami asyik main bola.Kami membagi diri jadi dua tim. Aku jadi satu tim dengan Mbak Laily, Mas Gatot, Jasmine,dan mas Dio. Sementara Fallen satu tim dengan Om seto, Mbak Erna, Mas adi dan Sendy. Dalam permainan Fallen berkali-kali  jatuh. ”Tu, kan... Fallen jatuh-jatuh terus, to? Nggak mau makan sih? Ayo, sini, gantikan Mbak Erna jaga gawang aja. Sejak tadi kog nggak bisa ngegolkan, gemes aku” kata Mbak Erna.Fallen pun menggantikan posisi Mbak Erna jadi penjaga gawang. Tapi sebentar kemudian ,”Gooool......!” gawang Fallen kebobolan. “yeah.....!” teriak Mbak Erna.
Hari sudah sore.  Pertandingan brakhir dengan kedudukan 6-2 untuk tim kami. Aku senang, sekali. Setelah puas dan lelah bermain bola, kami pulang. Sebelum pulang ke rumah Mbah, kami diajak mampir ke rumah Pakdhe Wasimin dulu. Ternyata di sana Budhe Wasimin telah menyiapkan es teh yang menggiurkan dan beberapa cemilan. “Ayo sini, pada haus to? Minum dulu es tehnya” ucap Budhe Wasimin. “Wah, nikmat sekali… . Makasih, ya Budhe” jawab Mas Dio. Setelah cukup istirahat, Om Seto berkata “Sudah jam 5 sore, ini, ayo kita pulang” katanya. “Baiklah, nanti kita dicari lho” jawab Jasmine. “Ya sudah Budhe, Pakdhe, dan semuanya. Makasih ya. Kami mau pulang dulu, sudah sore” ucap Mbak Laily. “Ya, sama-sama. Buruan pulang, nanti Mbah khawatir.” Lalu kami segera kembali ke rumah nenek. “Enggak…Mbah  lebih khawatir pada kambingnya….” Teriak Fallen.”Whahaha….” yang lain tertawa. Rupanya Fallen masih kesal dengan kambing nenek.
Sampai di rumah nenek, kami langsung antre untuk mandi. Setelah semua  mandi, ternyata televisi juga sudah selesai diperbaiki, makanan pun juga sudah matang. Tentunya makanan untuk keluarga kami, bukan untuk kambing nenek lagi. Hehehe.. Sebelum kami makan, waktu untuk sholat Maghrib tiba. Kami sholat berjamaah. Setelah selesai, kami makan bersama. “Ayo, semuanya makan. Pasti sudah lapar kan?” tanya nenek. “Iya kami sudah  lapar. Tadi di rumah Pakdhe Wasimin hanya minum es teh dan makan sedikit cemilan saja” jawab Jasmine. Kami semua segera makan. Namun,  kenapa dengan Fallen? Dia tidak segera mengambil piring makannya. “Len, ayo makan. Nanti lauknya keburu habis,lho! ” ucap Pakdhe Gio.Mbah juga sudah membuatkan bakmi kesukaanmu lho” timpal Ibu. “ Alaaah...paling-paling nggak enak! Terus untuk kambing lagi! Kan Mbah lebih sayang sama kambing dari pada sama aku. Tadi saja kambingnya juga dikasih pecel!” teriak Fallen. “Haduh Len, sudah makan saja. Ini untuk kita semua,” jawab Budhe Mur.  “Ini untukku ? Nanti aku dimarahi lagi!” jawab Fallen. “Ya sudah aku makan, ya” tutur Fallen, jangan dimarahi lagi, lho!” Fallen pun mengambil bakmi kesukaannya.” Hemm.... enak banget... Mbah!” tuturnya. Nenek tersenyum mendengarnya.
Setelah kenyang kami pun beristirahat.Kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Seperti biasanya Mbak Laily melanjutkan membaca novel. Aku, Mas Dio, Jasmine, Fallen, dan Sendy bermain UNO. Karena terlalu seru, kami lupa waktu. Ternyata sudah jam setengah 9 malam. Kami sudah lelah bermain dan sudah  mengantuk. Kami segera beranjak tidur, tetapi sebelum tidur kami akan sholat Isya’ dulu. Kami segera mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah. Kali ini yang mimpin Mas Dio, karena Pakdhe Gio ,ayahku dan Om seto sudah sholat. Setelah sholat kami pun segera tidur agar besok bisa bangun pagi dan melakukan aktivitas kami.
Ayam sudah berkokok tanda hari mulai pagi. Satu per satu dari kami bangun. Tentu saja yang bangun lebih dulu adalah Nenek. Kemudian  Pakdhe, Budhe, ayah, dan ibu. Lalu Om Seto dan Mbak Laily menyusul bangun. Mbak Laily membangunkanku. Setelah aku bangun, lalu aku membangunkan sepepupu-sepupuku. Kami bangun jam 5, waktunya sholat subuh. Seperti biasanya kami sholat subuh berjamaah. Setelah sholat, seperti biasanya, kami mempunyai rutinitas yang cukup unik.
Pagi-pagi kami pergi ke pasar. Biasanya kami ke pasar untuk berbelanja sayuran untuk makan siang. Untuk sarapannya kami membeli pecel di pasar. Banyak yang menjual makanan di sana. Kami segera berangkat. Namun, tidak semuanya yang ikut ke pasar. Aku, ayah, ibu, Budhe Mur, Mas Dio, Jasmine, Fallen, dan Sendy saja yang ikut. Nenek, Pakdhe Gio, Om Seto, dan Mbak Laily di rumah saja. Kami siap berangkat, Ayahku yang menyetir mobilnya. Saat di jalan, aku heran mengapa setiap bertemu orang di jalan, ibu dan Budhe Mur selalu menyapa orang itu dan mereka mengenal satu sama lain. Mungkin, orang-orang desa ngefans ya sama ibu dan Budhe Mur, hehehe…
Setelah menempuh waktu sekitar 15 menit, kami sampai di pasar. Pasar itu bernama Pasar Mento. Kami segera turun  dari mobil. Ayahku tidak ikut .Ayah hanya menunggu di dalam mobil saja. Sampai di pasar, yaaa ...sudah kebiasaan Sendy. Dia pasti ingin jajan. Tetapi yang diinginkannya bukan makanan untuk sarapan, dia ingin membeli lapis legit, semacam snack. “Budhe, aku pengen beli itu, yang warna- warni itu” ucap Sendy. “Oh, lapis legit le? Ya, mau berapa? Sekalian untuk yang lain ya. Beli 10 sekalian saja” jawab Budhe Mur. “Bu, tumbas lapise sedoso nggih. Pinten?” tanya Budhe Mur kepada penjual. “Sedoso gangsal ewu, Bu” jawab penjual. “nggih bu, sedoso mawon” tutur Budhe Mur. Budhe Mur membeli 10 lapis legit, total harganya 5 ribu. Setelah membeli lapis legit, kami membeli pecel untuk sarapan hari ini. Karena di rumah ada 11 orang, Ibu membeli 15 bungkus pecel.Biasa,karena ada yang maniak pecel, pasti nanti ada yang nambah.
Untuk membungkus 15 pecel, pasti membutuhkan waktu yang cukup lama. Kami memutuskan untuk membagi tempat. Aku, Ibu, dan Fallen menunggu pecelnya selesai dibungkus. Sementara Budhe Mur, Mas Dio, Jasmine, dan Sendy membeli sayuran. Hari ini nenek ingin memasak sayur terong dan garangasem. Jadi Budhe Mur harus membeli bahan-bahan untuk membuat menu tersebut. 15 bungkus pecel sudah selesai dibungkus. Ibu membayarnya kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke mobil. Sampai di sana ternyata Budhe Mur sudah sampai duluan. Kemudian kami segera bersiap untuk pulang ke rumah nenek.
Sesampainya di rumah nenek, kami segera menyantap pecel yang dibeli tadi. Seperti dugaanku, pasti ada yang nambah. 14 bungkus sudah habis disantap, sisanya ada 1. Sudah ditawarkan ke semuanya, tetapi tidak ada yang mau nambah lagi karena semua sudah kenyang. Tiba-tiba nenek mengambil 1 bungkus itu. Lalu Om Seto berkata “Nah gitu dong Mbah, biar sehat makan yang banyak”. Katanya. Ini untuk kambing saja ya, Mbah sudah kenyang kok” jawab nenek. “Halah, kambing lagi kambing lagi. Nanti kalau kembingnya tambah gemuk tambah jelek lho!” tutur Fallen. “Kambingnya baru hamil, le. Maklum kalau gemuk” jawab nenek. Kami semua tertawa, tetapi Fallen malah cemberut. Selesai makan, kami bergiliran untuk mandi. Ternyata nenek, Pakdhe Gio, Om Seto, dan Mbak Laily sudah mandi lebih dulu. Sambil menunggu giliran, ibu dan Budhe Mur membantu nenek untuk memasak menu makan siang. Setelah semua  mandi, tidak disangka ternyata makanan juga sudah jadi. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00, kami segera makan. Kali ini makan apa ya namanya? Sarapan sudah tadi, mungkin bisa dikatakan ini makan siang. Atau makan jelang siang? Hehehe… Hari ini kami juga sudah berencana akan mengunjungi rumah Mbah Supar. Setelah  sholat dzuhur kami akan berangkat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, kami akan segera berangkat ke rumah Mbah Supar, ya hanya sekedar berkunjung untuk bersilaturahim saja. Kami semua ikut ke rumah Mbah Supar, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah nenek, hanya sekitar 10 menit sudah sampai. Setelah kami sampai, kami di sambut Mbah Supar dan keluarga yang lain. Kami langsung masuk ke rumah, entah mengapa mereka sudah menyiapkan cemilan, padahal kami tidak memberi kabar jika akan berkunjung. Paranormal kali yaaa, bisa membaca pikiran, hehehe…
Di sana kami berbincang-bincang dengan saudara kami. Fallen dan Sendy yang sangat hiper itu pastinya tidak bisa berdiam diri saja. Mereka sudah bermain-main di halaman rumah Mbah Supar. Bahkan mereka mengajakku main ke belakang rumah. Saat itu aku sedang makan keripik tempe. Namun, karena sudah ditarik Fallen, aku langsung berjalan sambil makan keripik.
Sesampainya di belakang rumah, ternyata ada kandang kambing, Fallen berkata kepadaku “Mbak, boleh minta keripiknya?”. Lalu aku menjawab “Ambil sendiri dong, masih banyak di dalam”. “Ayolah mbak, minta sedikit dong” bujuk Fallen. “Ya sudah ini untukmu saja, memangnya untuk apa sih?” tanyaku. “Aku mau ngetes aja, jika Mbah itu keturunannya Mbah Supar, apakah kambing ini juga keturunan kambing punya Mbah yang tidak makan rumput? ” ucap Fallen . “Ya ampun Fallen, jelas-jelas di sini banyak rumput, pasti kambing ini makan rumput.”kataku. Tidak seperti kambing Mbah yang jelek itu,ya?tanya Fallen. “Mungkin saja kambing ini juga omnivora, coba aja, Len!” ujar Jasmine. Tetapi pada kenyataannya, kambing milik Mbah Supar tidak memakan keripik tempe itu. Sepertinya hanya kambing milik nenek yang tidak normal, apa perlu diperiksakan ke dokter hewan? Hahaha… “Tuh kan, dia tidak suka” tutur Fallen. “Eksperimenmu agal Len, sudah lah ayo kembali ke dalam saja. Kambing ini normal. ” kataku.
Kemudian kami segera masuk ke rumah. Tak terasa sudah 2 jam kami di rumah Mbah Supar. Kami memutuskan untuk kembali ke rumah nenek. Sebelum pulang, Mbah Supar memberi sedikit uang jajan untukku, Mbak Laily, Mas Dio, Jasmine, Fallen dan Sendy. Wah, betapa senangnya Fallen dan Sendy mendapat uang jajan. Setelah berpamitan kami segera masuk mobil.
Akhirnya kami sampai di rumah nenek lagi. Setibanya di sana, rasanya ada berbeda dengan biasanya. Kambing nenek heboh sekali. Nenek sangat khawatir dan segera mengecek keadaan rumahnya. Nenek langsung berlari menuju samping rumah, dan ternyata apa yang terjadi? “Subhanallah..” ucap nenek. “Ada apa Mbah?” tanya ibu sambil berlari menghampiri nenek. “Subhanallah, akhirnya.... Ayo ke sini, lihat ini. Kambingnya sudah melahirkan!” seru ibu. “Mana...., mana? Aku mau lihat.” Tutur Jasmine kegirangan. “Wah, anaknya 2! Lucu pula” ucap Fallen sambil tersenyum riang. “Nah, gitu dong Len. Kambingnya lucu juga kan?” Kata Pakdhe Gio. “Iya, iya, habis ibu kambing ini gemuk dan jelek sih! Jadi aku tidak suka. Kalau anaknya lucu! Jadi aku suka. “Waktu ibumu hamil kamu juga gemuk, juga jelek. Tapi ayahmu juga tetap sayang. Semua ibu, termasuk ibu kambing, kalau hamil juga gemuk dan jelek. Tapi kita harus tetap menyayangi,” kata nenek. “Kalau sekarang aku bisa janji deh! Aku akan menyayangi semua makhluk hidup di alam semesta ini. Termasuk kambing! Hahaha....” jawab Fallen. Sendy, Fallen, dan Jasmine tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat suka dengan anak kambing itu. Mereka bersemangat memberi makan kambing-kambing mungil ini. Tetapi dengan rumput lho, kalau diberi bakmi atau keripik tempe mungkin belum kenal. Hehehe…
Adzan Ashar sudah bergemuruh, Sendy, Fallen, dan Jasmine tampak sedih karena semuanya sudah sepakat pulang ke Solo setelah sholat Ashar. Itu tandanya mereka akan meninggalkan kambing-kambing lucu ini. “Ayo semuanya segera sholat Ashar lalu pulang” ucap Budhe Mur. “Yah, pulangnya besok saja, aku masih mau main sama kambing-kambing ini” tutur Fallen. “Kapan-kapan kesini lagi, kamu bisa main lagi kok.” Jawab nenek. “Liburan mendatang pasti kambingnya tidak lucu lagi” ucap Fallen. “ Bagaimana kalau kita foto sama kambingnya dulu, buat kenang-kenangan” usul Jasmine. “Ide bagus itu Mbak. Kita foto sama kambing-kambing ini,” jawab Sendy. “Om Seto, pinjam kameranya ya?” seruku. “Ya, Sa!”.  Akhirnya kami berfoto-foto ria dengan kambing-kambing itu. Yang paling banyak berpose dengan kambingnya sih si Fallen, entahlah anak itu, bisa berubah pikiran dalam sehari saja.
Setelah sholat Ashar dan puas berfoto-foto, kami pulang. Nenek membekali beberapa oleh-oleh makanan agar dibagi untuk keluarga di Solo. Kami berpamitan kepada nenek terlebih dahulu. Sebelum naik ke mobil, Fallen berpesan kepada nenek, “Mbah, kambingnya dirawat ya. Sering-sering diberi bakmi agar cepat melahirkan anak yang lucu. Hehehe..”. Lalu nenek menjawab “Oke deh Fallen, Mbah akan merawatnya” sambil mengacungkan kedua jempolnya. Kami pun tertawa terbahak-bahak mendengar dialek nenek yang meniru bahasa kami. Dan jangan lupa dengan janjimu ya, sayangi semua makhluk ciptaan Allah. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan,tambah nenek. Oke Mbah!” jawab Fallen. Akhirnya kami berangkat, semua sudah masuk ke mobil. Dari dalam mobil, kami melambaikan tangan kepada nenek. Kasian nenek, kesepian lagi di rumah.Temannya Cuma kambing.
Di sepanjang perjalanan kami tertidur. Jadi tak terasa kalau kami sudah sampai di rumah Budhe Mur. Aku dan Mbak Laily masih menunggu di rumah Budhe Mur, karena ibu masih membagi oleh-oleh dari nenek. Karena bosan menunggu terlalu lama, aku dan Mbak Laily memutuskan untuk pulang lebih dulu. Kami berdua jalan kaki dari rumah Budhe ke rumah kami. Setibanya di rumah, kami langsung bersandar di ruang tamu. Tiba-tiba ada yang berteriak dari luar “Mbak Sasa! Mbak Laily!”. Ternyata yang berteriak adalah Jasmine, Falen, dan Sendy. “Lho, kenapa kalian ke sini? Nggak capek to?” tanya Mbak Laily. “ Nggak, ayo main UNO, seru lho Mbak!” seru Sendy. Lalu aku menengok ke arah Mbak Laily sambil berkata “Ternyata liburan kita belum selesai ya, Mbak, kataku. “Iya,Sa. Kita masih harus mengurus anak-anak bandel ini”. Tanpa rasa kasihan, adik-adik sepupuku ini malah menertawakan Mbak Laily.Whahaha....capek,deh!