Sudah beberapa cerpen yang pernah aku tulis. Tak sedikit pula yang sudah pernah aku ikutkan lomba. Kali ini adalah cerpen karyaku yang pernah aku kirimkan dalam Lomba Menulis Cerita (LMC) siswa SMP/MTs tingkat nasional tahun 2013. Cerpen ini bertema kasih sayang dan judulnya adalah "Kambing Nenek Suka Bakmi". Taukah kalian apa isi dari cerpen ini? Find out by read this story!
Kambing Nenek Suka Bakmi
Karya Khansa Iffat
Libur telah
tiba, saatnya berkunjung ke rumah nenek. Sudah menjadi tradisi di keluarga besar
kami, setiap
liburan pasti main ke rumah nenek. Rumah nenekku di Wonogiri, tepatnya di Desa
Wonoharjo. Liburan kali ini keluarga dan saudara-saudaraku akan pergi ke rumah
nenek. Kami berencana berangkat besok pagi naik mobil ayahku. Malam ini kami akan
packing baju-baju yang akan dibawa
besok. Hmmm… Aku sudah tidak sabar.
Esok telah tiba,
kurapikan tempat tidurku lalu bergegas mandi. “ Mbak, aku dulu ya yang mandi? ”
tanyaku kepada kakakku. “Iya buruan, Sa!” sahut kakakku. Setelah semuanya siap,
kami segera berangkat. Kami akan menjemput keluarga besar kami di rumah Budhe
Mur. Rumahnya tak jauh dari rumahku, sekitar 500 meter saja. Setibanya di rumah
Budhe Mur, ternyata semua sudah menunggu. Ada Budhe Mur, Pakdhe Gio, Om Seto,
Mas Dio, Jasmine, Fallen, dan Sendy.
Mas Dio, Fallen,adalah anak Budhe Mur. Sedangkan Jasmine dan Sendy adalah anak Om Seto.mereka menunggu
di rumah Budhe mur untuk berangkat
bersama-sama.Tante Ayuk tidak ikut, karena
beliau tidak libur.
“Ayo, anak-anak
naik mobil.” ucap ibuku. “Aku pilih naik motor sama Om Seto aja, aku nggak suka
naik mobil!” tutur Fallen. “Oh ya sudah, hati-hati di jalan” kata Pakdhe Gio.
Memang sejak dulu Fallen tidak suka naik mobil, Jika berpergian dia selalu naik motor.
Perjalanan Solo
– Wonogiri kami mulai. Pakdhe Gio yang menyetir mobil. Ayahku duduk di depan
sambil memangku Sendy. Di antara kami, Sendylah
yang pailing kecil .Dia masih duduk di TK. Ibu,
Budhe Mur, dan Mbak Laily duduk di tengah. Sementara Aku, Mas Dio dan Jamine
duduk di belakang. Kami menikmati perjalanan kami. Selama di perjalanan, Ibu
dan Budhe asyik mengobrol, Mbak Laily serius membaca novel, Mas Dio sedang
asyik mendengarkan lagu menggunakan MP3
Player barunya. Katanya itu hadiah
dari mamanya karena dia mendapatkan peringkat 1 di sekolah, sedangkan Aku dan
Jasmine sibuk bermain game mengunakan tab milikku, itu pun sama seperti Mas
Dio, hadiah dari ayah karena aku mendapatkan peringkat 1 di sekolah.
Tak terasa sudah
setengah perjalanan, kami sampai di Kabupaten Sukoharjo. Biasanya kami mampir
ke toko untuk membelikan beberapa kebutuhan pokok untuk nenek, dan kali ini pun
juga. Kami sampai di toko langganan kami, Ibu dan Budhe turun dari mobil.
Tiba-tiba Sendy berteriak “ Aku ikut! Aku mau jajan”. Segera Sendy turun dari
mobil dan menghampiri Ibuku dan Budhe Mur. “Budhe,
aku mau jajan ini, ini, dan ini.” ucapnya sambil menunjukkan makanan yang ia
minta. Setelah semua barang sudah dibeli, kami melanjutkan perjalanan . Ketika
di mobil, ternyata Sendy hanya memberikan masing-masing satu butir permen
kepada Aku, Jasmine, Mas Dio, dan Mbak Laily. “Mbak Laily, Mas Dio, Mbak Sasa,
dan Mbak Jasmine, ini permen buat kalian. Hehehe..” sambil tertawa Sendy
memberikan permennya. “Lho, kok cuma satu to, Sen? Lagi dong! Adik curang,
pasti kamu punya banyak.” Tutur Jasmine sambil mengerutkan keningnya. “Mending
dapet satu, daripada Mas Fallen nggak dapet, kan? Yaa …nanti aku bagi di rumah
Mbah lagi” jawab Sendy. “Janji lho ya, nanti dibagi lagi” sahut Mas Dio.
Setelah perjalanan
yang cukup lama, tibalah kami sudah di rumah nenek. Sesampainya di rumah nenek,
ternyata Fallen dan Om Seto sudah sampai lebih dulu di rumah nenek. Aku, Sendy,
Jasmine, dan Mas Dio mencari-cari Fallen. Ternyata dia sedang di belakang
rumah, dia sedang mengamati kambingnya nenek. “Oh, kamu di sini, Len. Kami cari-cari
dari tadi” tuturku. “Iya Mbak Sasa. Coba lihat kambing ini, gemuk sekali ya?”
ucap Fallen. “Iya ya, kok bisa kambingnya gemuk, biasanya kambing tidak segemuk
ini” tanya Jasmine dengan heran. Lalu Mas Dio menjawab “mungkin karena ini
kambing yang hidup di desa sehingga dia banyak makan rumput. Di desa kan masih banyak
rumput segar yang cocok untuk pakan kambing”. “Iya bener tu Mas Dio” sahut
Sendy. “Emangnya ada kambing yang hidup di kota?” tanyaku.Kambing guling,
kaleee…..whahaha…”yang lain pun ikut tertawa. “Oh ya, mana ni permen buat kita.
Jangan ingkar janji ya, Sen!” tegur Mas Dio. “laaaah, kok masih pada inget sih.
Oke ,oke. Aku bagi. Ayo sekarang kita masuk dulu” jawab Sendy.
Setelah Sendy
membagi permennya, Mbak Laily mengajak Aku, Sendy, Fallen, Jasmine, dan Mas Dio
bermain UNO. Permainan kartu ini sudah cukup populer di kalangan anak-anak.
Tapi ternyata, di antara kami hanya Aku, Mbak Laily, dan Mas Dio saja yang tau.
Jasmine, Fallen, dan Sendy belum pernah bermain UNO. Mbak Laily menjelaskan
cara bermainnya. Setelah cukup paham, permainan dimulai. Giliran pertama Mas
Dio, lalu Aku, Mbak Laily, Fallen, Sendy, dan Jasmine. Tanpa disangka-sangka,
ternyata Fallen sering menang. Sudah 5 kali dia menang, mungkin karena dia
beruntung. Seperti iklan di TV, orang pintar kalah sama orang bejo. Hehehe..
Setelah kami
lelah bermain UNO, kami memilih untuk tidur saja. Bisa dikatakan ini tidur
siang, karena waktu telah menunjukkan pukul 11.30. Sekitar jam 2 siang kami
bangun. Kami terbangun karena kami lapar, kami baru sadar kalau kami belum
makan siang. Memang makan siang kali ini sedikit telat, karena kami mengunjungi
nenek tanpa sepengetahuan nenek, jadi nenek pun belum menyiapkan makanan untuk
kami. Nenek, Ibu, dan Budhe Mur telah memasakkan sayur lodeh dan kakap goreng
hasil tangkapan di kolam
milik nenek. Tidak ketinggalan mie atau yang lebih sering kami sebut bakmi.
Karena Fallen
tergiur oleh kelezatan bakmi bikinan nenek, dia langsung memakannya, tetapi
tidak seperti dugaanya. “Lho, kok bakminya nggak enak, Mbah? Asin banget!”seru Falen. Tiba-tiba nenek
marah, kira-kira kenapa ya? “Fallen, bakminya kok kamu makan?
Itu bukan buat kamu. Sudah taruh itu, kamu makan sayur dan kakap saja.” teriak nenek.
Fallen terkejut. “Lantas
ini untuk siapa? Nggak enak Mbah, nanti yang makan juga nggak akan suka lho.”
Jawab Fallen. “Nanti
Mbah buatkan lagi yang enak, itu bakmi jangan dimakan dulu. Itu untuk kambing!
Kasihan kambingnya sebentar
lagi melahirkan!”. “Whahahaha..
kambing? Haduh, Mbah ini aneh-aneh saja.” Sahutku sambil tertawa
terbahak-bahak.. “Pantesan kambingnya gemuk banget. Kambing ini makanannya seperti manusia to?”
ucap Mbak Laily yang sedang dari sumur mengambil air wudhu untuk sholat. “Iya,
kita itu harus sayang kepada semua makhluk hidup. Tidak hanya manusia saja yang
diperlakukan baik.
Hewan dan tumbuhan juga
sama.” kata nenek. “Tapi ya nggak
segitunya,to Mbah...,
dikasih rumput juga namanya sayang kok” kata Om Seto.
Tiba-tiba Jasmin berkata “kata Bu Guru kambing itu herbivora pemakan
tumbuhan.
Ini kambing ajaib ya, dia omnivora. Seperti ayam saja.” tambahnya. “Wah putu wedok
pinter yo! Iya memang kambing itu pemakan tumbuhan,
tapi berbeda dengan kambing Mbah. Ini kambing istimewa yang sudah Mbah besarkan dari bayi. Sudah, sudah sekarang
kalian segera makan” kata nenek. Karena dimarahi nenek, Fallen malah cemberut.
Sepertinya dia marah, atau bahkan malu,
ya? Hehehe.. Mungkin dia berpikir kalau nenek lebih sayang kepada kambingnya
dari pada Fallen. Entah mengapa dia juga tidak mau makan siang bersama-sama.Ngambek.Dia malah pergi ke kandang kambing.
Sebentar
kemudian terdengar keributan di sana. “Embek, embek, embek....!” suara kambing
terdengar ribut. Sementara suara Fallen terdengar kencang menyaingi embikan
kambing. “ Rasain lu! Mau lari ke mana! Dasar kambing jelek! Gendut! Makannya
bakmi, lagi! Nih....rasain!” teriak Fallen. Nenek segera menghampiri Fallen di
kandang kambing sambil teriak-teriak. “ Fallen...kau apakan kambingnya, he?”
teriak nenek tak kalah hebohnya. Kami segera berlari menghampiri mereka.
Ternyata Fallen menyodok- nyodok kambing nenek dengan sebilah bambu.Ke mana pun
kambing itu berlari, dia kejar dengan bilah bambu yang dibawanya. Tapi karena kambingnya
di dalam kandang, dia hanya dapat ‘mojok’ sambil mengembik-embik.
“Fallen...jangan... kasihan kambingnya... kan sakit...nanti mati,lho!” teriak
nenek lagi. “ Biar aja! Mbah nggak sayang lagi sama Fallen.Lebih sayang
kambing! Buktinya kambing aja dikasih mie. Aku,tidak!” bantahnya. “Ya
sudah...nanti Mbah masakkan yang enak.Pakai telur, tapi jangan kau sakiti
kambingnya!” Tanpa menjawab Fallen berlari sambil membuang galah bambunya.
Kami
selesai makan.Setelah kenyang, kami beristirahat sejenak. Kami
bingung ingin melakukan apa. Kami belum bisa nonton TV untuk saat ini karena
Ayah dan Pakdhe Gio
sedang memperbaiki antena di atas rumah. Kami memutuskan untuk berfoto-foto
bersama. Yaaa …untuk kenang-kenangan saja. Om Seto membawa kamera digitalnya. Kami
berpose di kebun milik nenek. Pemandangannya cocok untuk background foto kami.Melihat
kami berfoto-foto, Fallen ikut gabung juga. Setelah
puas berfoto-foto, Fallen mengajak Aku, Sendy, Jasmine, Mas Dio, Mbak Laily,
dan Om Seto untuk bermain bola di lapangan. “Om Seto ayo main bola di
lapangan!” ajak Fallen.” Bosan aku di
rumah terus, liat kambing jelek itu!”tambahnya.
“Ayo, Om juga mau.” Tapi kita tidak punya
bola. Terus gimana?”kata Mas Dio.
“Kita ajak Mbak Erna, Mas
Adi, dan Mas Gatot saja. Orangnya pas 10, nanti 1 tim 5 orang. Sekalian pinjam
bola” usulku. “Iya aku setuju, ayo buruan berangkat, nanti malah aku dimarahi
lagi kalo main di dapur atau di dekat kandang kambing jelek itu!” ucap Fallen
dengan memelototkan matanya. “Sebentar aku ganti baju dulu” ujar Mbak Laily.
Kami semua sudah
siap berangkat. Kami berpamitan kepada Budhe Mur untuk pergi bermain bola di lapangan. Kami
menghampiri rumah Mbak Erna. Ayah
Mbak Erna itu sepupu ibu yang tinggal di desa nenek.Setiap ke rumah nenek pasti kami datang juga ke rumah Mbak
Erna. Maka dari itu kami sudah akrab.Kami sering main bola bersama atau
bermain-main di kali.
“Mbak Erna, Mas
Gatot, Mas Adi! Ayo main bola di lapangan.” Sendy dan Fallen berteriak bareng. Dari dalam rumah keluar
Pakdhe Wasimin “Wah, pada pulang ke rumah Mbah to? Ada apa ini?”. “Kami mau mengajak
main bola di lapangan, Pak Dhe…Mbak Erna, Masa Adi, sama Mas Gatot ada?” tanya Mas Dio. “Sebentar
ya, Pakdhe panggilkan dulu. Ayo masuk sini” ujar Pakdhe Wasimin. Tak lama
kemudian Mbak Erna, Mas Adi, dan Mas Gatot keluar. “Mau ngajak ke lapangan to?
Mau ngapain? Makan rumput? hehehe” tanya
Mbak Erna. “Ya enggak lah, kita kan bukan kambing” jawabku. “juga
bukan kambing gemuk jeleknya Mbah yang makan bakmi itu.” jawab Fallen. “Makan
Bakmi, le? ” ujar Pakdhe Wasimin. “Iya Pakdhe, bakminya akan kumakan malah aku dimarahi Mbah.Terus tak sodok-sodok pakai galah,tambah dimarahi.
Jadi aku main saja. Nggak mau makan aku!”
lanjutnya. “Wah, Fallen lagi marah to ini? Nanti tambah pungkring,lho!
Hahaha”ledek Mbak Erna. “Ya sudah ayo berangkat, ini bolanya sudah kubawa” ucap
Mas Adi.
Sesampai
di lapangan kami asyik main bola.Kami membagi diri jadi dua tim. Aku jadi satu
tim dengan Mbak Laily, Mas Gatot, Jasmine,dan mas Dio. Sementara Fallen satu
tim dengan Om seto, Mbak Erna, Mas adi dan Sendy. Dalam permainan Fallen
berkali-kali jatuh. ”Tu, kan... Fallen
jatuh-jatuh terus, to? Nggak mau makan sih? Ayo, sini, gantikan Mbak Erna jaga
gawang aja. Sejak tadi kog nggak bisa ngegolkan,
gemes aku” kata Mbak Erna.Fallen pun menggantikan posisi Mbak Erna jadi penjaga
gawang. Tapi sebentar kemudian ,”Gooool......!” gawang Fallen kebobolan.
“yeah.....!” teriak Mbak Erna.
Hari sudah sore.
Pertandingan
brakhir dengan kedudukan 6-2 untuk tim kami. Aku senang, sekali. Setelah
puas dan lelah bermain bola, kami pulang. Sebelum
pulang ke rumah Mbah, kami diajak mampir ke rumah Pakdhe Wasimin dulu. Ternyata
di sana
Budhe Wasimin telah menyiapkan es teh yang menggiurkan dan beberapa cemilan. “Ayo
sini, pada haus to? Minum dulu es tehnya” ucap Budhe Wasimin. “Wah, nikmat
sekali… . Makasih, ya Budhe” jawab Mas Dio. Setelah cukup istirahat, Om Seto berkata “Sudah jam 5 sore, ini, ayo kita pulang” katanya. “Baiklah, nanti kita
dicari lho” jawab Jasmine. “Ya sudah Budhe, Pakdhe, dan semuanya. Makasih ya.
Kami mau pulang dulu, sudah sore” ucap Mbak Laily. “Ya, sama-sama. Buruan
pulang, nanti Mbah khawatir.” Lalu kami segera kembali ke rumah nenek. “Enggak…Mbah lebih khawatir pada kambingnya….” Teriak
Fallen.”Whahaha….” yang lain tertawa. Rupanya Fallen masih kesal dengan kambing
nenek.
Sampai di rumah
nenek, kami langsung antre untuk mandi. Setelah semua mandi, ternyata televisi juga sudah selesai
diperbaiki, makanan pun juga sudah matang. Tentunya makanan untuk keluarga kami,
bukan untuk kambing nenek lagi. Hehehe.. Sebelum kami makan, waktu untuk sholat
Maghrib tiba. Kami sholat berjamaah. Setelah selesai, kami makan bersama. “Ayo,
semuanya makan. Pasti sudah lapar kan?” tanya nenek. “Iya kami sudah lapar. Tadi di rumah Pakdhe Wasimin hanya
minum es teh dan makan sedikit cemilan saja” jawab Jasmine. Kami semua segera
makan. Namun, kenapa dengan Fallen? Dia
tidak segera mengambil piring makannya.
“Len, ayo makan. Nanti lauknya keburu habis,lho!
” ucap Pakdhe Gio.”Mbah
juga sudah membuatkan bakmi kesukaanmu lho” timpal
Ibu. “
Alaaah...paling-paling nggak enak! Terus untuk kambing lagi! Kan Mbah lebih
sayang sama kambing dari pada sama aku. Tadi saja kambingnya juga dikasih
pecel!” teriak Fallen. “Haduh Len, sudah makan
saja. Ini untuk kita semua,”
jawab Budhe Mur. “Ini untukku ? Nanti aku dimarahi lagi!” jawab Fallen. “Ya sudah aku
makan,
ya” tutur Fallen, jangan dimarahi
lagi, lho!” Fallen pun mengambil bakmi kesukaannya.” Hemm.... enak banget...
Mbah!” tuturnya. Nenek tersenyum mendengarnya.
Setelah
kenyang kami pun beristirahat.Kami melanjutkan
aktivitas masing-masing.
Seperti biasanya Mbak
Laily melanjutkan membaca novel. Aku, Mas Dio, Jasmine, Fallen, dan Sendy
bermain UNO. Karena terlalu seru, kami lupa waktu. Ternyata sudah jam setengah
9 malam. Kami sudah lelah
bermain dan sudah mengantuk. Kami segera
beranjak tidur, tetapi sebelum tidur kami akan sholat Isya’ dulu. Kami segera
mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah. Kali
ini yang mimpin Mas Dio, karena Pakdhe Gio ,ayahku dan Om seto sudah sholat. Setelah
sholat kami pun segera tidur agar besok bisa bangun pagi dan melakukan
aktivitas kami.
Ayam
sudah berkokok tanda hari mulai pagi. Satu per satu dari kami bangun. Tentu
saja yang bangun lebih dulu adalah Nenek.
Kemudian Pakdhe, Budhe, ayah, dan ibu. Lalu Om Seto dan Mbak Laily menyusul
bangun. Mbak Laily membangunkanku. Setelah aku bangun, lalu aku membangunkan
sepepupu-sepupuku. Kami bangun jam 5, waktunya sholat subuh. Seperti biasanya kami
sholat subuh berjamaah. Setelah sholat, seperti biasanya, kami mempunyai
rutinitas yang cukup unik.
Pagi-pagi
kami pergi ke pasar. Biasanya kami ke pasar untuk berbelanja sayuran untuk
makan siang. Untuk
sarapannya kami membeli pecel di pasar. Banyak yang menjual makanan di sana.
Kami segera berangkat. Namun,
tidak semuanya yang ikut ke pasar. Aku, ayah,
ibu, Budhe Mur, Mas Dio,
Jasmine, Fallen, dan Sendy saja yang ikut. Nenek, Pakdhe Gio, Om Seto, dan Mbak
Laily di rumah saja. Kami siap berangkat, Ayahku yang menyetir mobilnya. Saat
di jalan, aku heran mengapa setiap bertemu orang di jalan, ibu dan Budhe Mur selalu
menyapa orang itu dan mereka mengenal satu sama lain. Mungkin, orang-orang desa
ngefans ya sama ibu dan Budhe Mur,
hehehe…
Setelah
menempuh waktu sekitar
15 menit, kami sampai di pasar. Pasar itu bernama Pasar Mento. Kami segera
turun dari mobil. Ayahku tidak ikut .Ayah hanya menunggu di
dalam mobil saja. Sampai di pasar, yaaa ...sudah
kebiasaan Sendy.
Dia pasti ingin jajan. Tetapi
yang diinginkannya bukan makanan untuk sarapan, dia ingin membeli lapis legit,
semacam snack. “Budhe, aku pengen beli itu,
yang warna-
warni itu” ucap Sendy. “Oh,
lapis legit le? Ya, mau berapa?
Sekalian untuk yang lain ya. Beli 10 sekalian saja” jawab Budhe Mur. “Bu, tumbas lapise sedoso nggih. Pinten?”
tanya Budhe Mur kepada
penjual. “Sedoso
gangsal ewu, Bu”
jawab penjual. “nggih bu, sedoso mawon”
tutur Budhe Mur. Budhe Mur membeli 10 lapis legit, total harganya 5 ribu.
Setelah membeli
lapis legit, kami membeli pecel untuk sarapan hari ini. Karena di rumah ada 11
orang, Ibu membeli 15 bungkus pecel.Biasa,karena
ada yang maniak pecel, pasti nanti ada yang nambah.
Untuk
membungkus 15 pecel, pasti membutuhkan waktu yang
cukup lama. Kami memutuskan untuk membagi tempat. Aku, Ibu, dan Fallen menunggu
pecelnya selesai dibungkus. Sementara Budhe Mur, Mas Dio, Jasmine, dan Sendy
membeli sayuran. Hari ini nenek ingin memasak sayur terong dan garangasem. Jadi
Budhe Mur harus membeli bahan-bahan untuk membuat menu tersebut. 15 bungkus
pecel sudah selesai dibungkus. Ibu
membayarnya kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke mobil. Sampai di
sana ternyata Budhe Mur sudah sampai duluan.
Kemudian kami segera bersiap untuk pulang ke rumah nenek.
Sesampainya di
rumah nenek, kami segera menyantap pecel yang dibeli tadi. Seperti dugaanku,
pasti ada yang nambah. 14 bungkus sudah habis disantap, sisanya ada 1. Sudah
ditawarkan ke semuanya, tetapi tidak ada yang mau nambah lagi karena semua sudah
kenyang. Tiba-tiba nenek mengambil 1 bungkus itu. Lalu Om Seto berkata “Nah gitu dong Mbah, biar
sehat makan yang banyak”. Katanya. “Ini untuk kambing saja
ya, Mbah sudah kenyang kok” jawab nenek. “Halah,
kambing lagi kambing lagi. Nanti kalau kembingnya tambah gemuk tambah jelek
lho!” tutur Fallen. “Kambingnya
baru hamil, le. Maklum kalau gemuk”
jawab nenek. Kami semua tertawa, tetapi Fallen malah cemberut. Selesai makan, kami bergiliran
untuk mandi. Ternyata nenek, Pakdhe Gio, Om Seto, dan Mbak Laily sudah mandi
lebih dulu. Sambil menunggu giliran, ibu
dan Budhe Mur membantu nenek untuk memasak menu makan siang. Setelah semua mandi, tidak disangka ternyata makanan juga
sudah jadi. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00,
kami segera makan. Kali ini makan apa ya
namanya? Sarapan sudah tadi, mungkin bisa dikatakan
ini makan siang. Atau makan jelang siang? Hehehe… Hari ini kami juga sudah
berencana akan mengunjungi rumah Mbah Supar. Setelah sholat
dzuhur kami akan berangkat.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 1 siang, kami akan segera berangkat ke rumah Mbah Supar, ya
hanya sekedar berkunjung untuk bersilaturahim saja. Kami semua ikut ke rumah
Mbah Supar, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah nenek, hanya sekitar 10 menit sudah sampai.
Setelah kami sampai, kami di sambut Mbah Supar dan keluarga yang lain. Kami
langsung masuk ke rumah, entah
mengapa mereka sudah menyiapkan cemilan, padahal kami tidak memberi kabar jika
akan berkunjung. Paranormal kali yaaa, bisa membaca pikiran, hehehe…
Di sana kami berbincang-bincang
dengan saudara kami. Fallen dan Sendy yang sangat hiper itu pastinya tidak bisa berdiam diri saja. Mereka sudah
bermain-main di halaman rumah Mbah
Supar. Bahkan mereka mengajakku main ke belakang rumah. Saat itu aku sedang
makan keripik tempe. Namun,
karena sudah ditarik Fallen,
aku langsung berjalan sambil makan keripik.
Sesampainya di belakang
rumah, ternyata ada kandang kambing, Fallen
berkata kepadaku “Mbak, boleh minta keripiknya?”. Lalu aku menjawab “Ambil sendiri dong,
masih banyak di dalam”. “Ayolah
mbak, minta sedikit dong”
bujuk Fallen. “Ya sudah ini untukmu
saja, memangnya untuk apa sih?” tanyaku. “Aku
mau ngetes aja, jika Mbah itu keturunannya
Mbah Supar, apakah kambing ini
juga keturunan kambing punya Mbah yang tidak makan rumput? ” ucap Fallen . “Ya ampun Fallen, jelas-jelas di sini
banyak rumput, pasti kambing ini makan rumput.”kataku. “Tidak
seperti kambing
Mbah yang jelek itu,ya?”tanya Fallen. “Mungkin saja kambing ini
juga omnivora, coba aja, Len!”
ujar Jasmine. Tetapi pada kenyataannya, kambing milik Mbah Supar tidak memakan
keripik tempe itu. Sepertinya hanya kambing milik nenek yang tidak normal, apa
perlu diperiksakan ke dokter hewan? Hahaha… “Tuh kan, dia tidak suka” tutur Fallen. “Eksperimenmu agal Len, sudah lah ayo
kembali ke dalam saja. Kambing ini normal. ” kataku.
Kemudian kami
segera masuk ke rumah.
Tak terasa sudah 2 jam kami di rumah Mbah Supar. Kami memutuskan untuk kembali ke rumah
nenek. Sebelum pulang, Mbah Supar memberi sedikit uang jajan untukku, Mbak
Laily, Mas Dio, Jasmine, Fallen dan Sendy. Wah, betapa senangnya Fallen dan
Sendy mendapat uang jajan. Setelah berpamitan kami segera masuk mobil.
Akhirnya kami
sampai di rumah nenek lagi. Setibanya di sana, rasanya ada berbeda dengan
biasanya. Kambing nenek heboh sekali.
Nenek sangat khawatir
dan segera mengecek keadaan rumahnya. Nenek langsung berlari menuju samping
rumah, dan ternyata apa yang terjadi? “Subhanallah..”
ucap nenek. “Ada
apa Mbah?” tanya
ibu sambil berlari
menghampiri nenek. “Subhanallah,
akhirnya.... Ayo
ke sini,
lihat ini. Kambingnya sudah melahirkan!” seru ibu. “Mana...., mana? Aku mau lihat.”
Tutur Jasmine kegirangan. “Wah,
anaknya 2! Lucu pula” ucap Fallen
sambil tersenyum riang.
“Nah, gitu dong Len.
Kambingnya lucu juga kan?” Kata Pakdhe Gio. “Iya,
iya, habis ibu kambing ini gemuk dan jelek sih!
Jadi aku tidak suka.
Kalau anaknya lucu! Jadi
aku suka. “Waktu ibumu hamil kamu juga
gemuk, juga jelek. Tapi ayahmu juga tetap sayang. Semua ibu, termasuk ibu
kambing, kalau hamil juga gemuk dan jelek. Tapi kita harus tetap menyayangi,”
kata nenek. “Kalau sekarang aku bisa janji deh! Aku akan menyayangi semua
makhluk hidup di alam semesta ini.
Termasuk kambing! Hahaha....” jawab Fallen. Sendy,
Fallen, dan Jasmine tertawa
terbahak-bahak. Mereka sangat suka dengan anak
kambing itu. Mereka bersemangat
memberi makan kambing-kambing mungil ini. Tetapi dengan rumput lho, kalau
diberi bakmi atau keripik tempe mungkin belum kenal. Hehehe…
Adzan Ashar sudah
bergemuruh, Sendy, Fallen, dan Jasmine tampak sedih karena semuanya sudah
sepakat pulang ke Solo setelah sholat Ashar. Itu tandanya mereka akan meninggalkan
kambing-kambing lucu ini. “Ayo
semuanya segera sholat Ashar
lalu pulang” ucap Budhe Mur. “Yah,
pulangnya besok saja, aku masih mau main sama kambing-kambing ini” tutur
Fallen. “Kapan-kapan
kesini lagi, kamu bisa main lagi kok.” Jawab nenek. “Liburan mendatang pasti
kambingnya tidak lucu lagi” ucap Fallen. “ Bagaimana kalau kita foto sama kambingnya
dulu, buat kenang-kenangan” usul Jasmine. “Ide
bagus itu Mbak.
Kita foto sama kambing-kambing ini,”
jawab Sendy. “Om Seto, pinjam kameranya ya?” seruku. “Ya, Sa!”. Akhirnya kami berfoto-foto ria dengan kambing-kambing itu. Yang paling
banyak berpose dengan kambingnya sih si Fallen, entahlah anak itu, bisa berubah
pikiran dalam sehari saja.
Setelah sholat Ashar dan puas berfoto-foto,
kami pulang. Nenek membekali
beberapa oleh-oleh makanan agar dibagi untuk keluarga di Solo. Kami berpamitan
kepada nenek terlebih dahulu. Sebelum naik ke mobil, Fallen berpesan kepada
nenek, “Mbah, kambingnya dirawat ya. Sering-sering diberi bakmi agar cepat
melahirkan anak yang lucu. Hehehe..”. Lalu nenek menjawab “Oke deh Fallen, Mbah
akan merawatnya” sambil
mengacungkan kedua jempolnya. Kami pun tertawa terbahak-bahak mendengar dialek
nenek yang meniru bahasa kami. “Dan jangan lupa dengan janjimu ya, sayangi
semua makhluk ciptaan Allah. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan,”tambah nenek. “Oke Mbah!” jawab Fallen.
Akhirnya kami berangkat, semua sudah masuk ke mobil. Dari dalam mobil, kami
melambaikan tangan kepada nenek. Kasian nenek, kesepian lagi di rumah.Temannya Cuma kambing.
Di sepanjang
perjalanan kami tertidur. Jadi tak terasa kalau kami sudah sampai di rumah
Budhe Mur. Aku dan Mbak Laily masih menunggu di rumah Budhe Mur, karena ibu
masih membagi oleh-oleh dari nenek. Karena bosan menunggu terlalu lama, aku dan
Mbak Laily memutuskan untuk pulang lebih dulu. Kami berdua jalan kaki dari
rumah Budhe ke rumah kami. Setibanya di rumah, kami langsung bersandar di ruang
tamu. Tiba-tiba ada yang berteriak dari luar “Mbak Sasa! Mbak Laily!”. Ternyata
yang berteriak adalah Jasmine, Falen, dan Sendy. “Lho, kenapa kalian ke
sini? Nggak capek to?” tanya
Mbak Laily. “ Nggak, ayo
main UNO, seru lho Mbak!” seru Sendy. Lalu aku menengok ke arah Mbak Laily sambil
berkata “Ternyata liburan kita
belum selesai ya, Mbak,” kataku. “Iya,Sa. Kita masih
harus mengurus anak-anak bandel ini”.
Tanpa rasa kasihan, adik-adik sepupuku ini malah menertawakan Mbak Laily.Whahaha....capek,deh!